Bali – Semangat generasi muda untuk menghadapi perubahan iklim terus tumbuh melalui ruang belajar, kolaborasi, dan aksi nyata. Hal tersebut tercermin dalam pelaksanaan RYCAM Youth Camp 2026 yang berlangsung pada 6 – 8 Juli 2026 di Wisma Nangun Kerti, Bedugul, Bali.
JAMTANI RYCAM (Rural Youth Climate Action Movement) menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperkuat pengetahuan, jejaring, dan kapasitas dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, khususnya dalam sektor pertanian. Kegiatan ini mempertemukan anak muda, guru, serta perwakilan organisasi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia untuk saling berbagi pengalaman dan menyusun gagasan perubahan yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pemahaman mengenai krisis iklim dan peran pemuda dalam aksi pertanian melalui diskusi bersama akademisi, praktisi, pemerintah, pelaku usaha, serta organisasi yang bergerak dalam isu perubahan iklim. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan materi Cool Farming dan inovasi pertanian rendah emisi yang menghadirkan pengalaman dari para peserta Young Cool Farmer Challenge.
Melalui sesi tersebut, peserta diajak melihat bahwa pertanian bukan hanya menjadi sektor yang terdampak oleh perubahan iklim, tetapi juga memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi. Berbagai praktik pertanian ramah lingkungan dan rendah emisi menunjukkan bahwa upaya menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan dan pendapatan petani.
Pembelajaran kemudian diperluas dengan melihat sistem pangan secara menyeluruh. Dalam sesi “Di Balik Sebuah Panen”, peserta diajak memahami keterkaitan antara produksi, distribusi, konsumsi, hingga pengelolaan limbah. Perspektif ekonomi sirkular menjadi salah satu pembelajaran penting bahwa membangun sistem pangan berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda.
Memasuki hari kedua, peserta diajak menggali potensi lokal yang dimiliki oleh daerah masing-masing. Berbagai pengalaman dan gagasan dibagikan, mulai dari pengembangan school mini forest, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga kampanye lingkungan yang melibatkan generasi muda.
Tidak hanya berdiskusi, peserta juga belajar memanfaatkan media digital sebagai alat kampanye perubahan. Mereka mempraktikkan pembuatan konten kreatif mengenai isu lingkungan, seperti pengelolaan sampah dan ajakan menjaga kebersihan kawasan wisata. Pembelajaran ini mendorong peserta untuk menggunakan teknologi sebagai sarana menyebarkan praktik baik dan membangun kesadaran publik mengenai isu lingkungan dan perubahan iklim.
Pada hari terakhir, seluruh peserta menyusun visi dan Joint Statement atau Deklarasi Bali sebagai hasil refleksi selama mengikuti RYCAM Youth Camp 2026. Deklarasi tersebut memuat berbagai keresahan dan harapan generasi muda terhadap persoalan ekologis, pengelolaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, akses pendidikan, serta pentingnya membangun sistem pendidikan dan pertanian yang lebih adil dan inklusif.
Direktur JAMTANI, Kustiwa Adinata, dalam sesi penutupan menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda sejak saat ini untuk menghadapi tantangan di masa depan, terutama ancaman krisis iklim yang diperkirakan semakin kompleks.
“Anak muda saat ini akan mengambil posisi penting dalam 5–10 tahun mendatang. Dengan tantangan yang bisa jadi lebih berat dari saat ini, terutama ancaman krisis iklim, maka perlu menyiapkan diri untuk lebih tangguh.”
Menurutnya, proses pembelajaran dan pertemuan seperti RYCAM JAMTANI menjadi salah satu ruang untuk menempa kapasitas generasi muda agar mampu menghadapi berbagai perubahan dan mengambil peran lebih besar di masa mendatang.
“Tidak ada keris yang bernilai tinggi tanpa proses dibakar dan ditempa. Acara ini adalah media untuk menempa diri agar lebih bernilai.”
Pesan tersebut menjadi penutup sekaligus pengingat bagi para peserta bahwa perubahan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ketangguhan, keberanian untuk belajar, serta kemauan untuk mengambil peran.
Bagi JAMTANI RYCAM, RYCAM Youth Camp 2026 bukan sekadar kegiatan pertemuan pemuda, tetapi menjadi bagian dari proses menyiapkan generasi muda sebagai penggerak pertanian berkelanjutan dan aksi iklim. Melalui kegiatan ini generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga menjadi pelaku perubahan di lingkungan dan komunitasnya.
Pengetahuan, pengalaman, jejaring, dan gagasan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan melalui aksi nyata di daerah masing-masing. Dari Bedugul, peserta JAMTANI RYCAM membawa semangat untuk terus belajar, berkolaborasi, dan bergerak bersama.
RYCAM JAMTANI menjadi langkah untuk menanam benih perubahan mendorong generasi muda tumbuh menjadi penggerak pertanian yang tangguh, berkelanjutan, dan responsif terhadap perubahan iklim.