Bangkok, Thailand – Maret 2026. Fisal Hafiz, sebagai perwakilan pemuda dari Indonesia melalui program RYCAM JAMTANI, berpartisipasi dalam Civil Society Consultation in Conjunction with the 38th FAO Regional Conference for Asia and the Pacific (APRC) yang diselenggarakan pada 10–12 Maret 2026 di Chulalongkorn University, Bangkok, Thailand. Forum ini merupakan pertemuan masyarakat sipil yang dilaksanakan menjelang konferensi regional Food and Agriculture Organization (FAO) untuk kawasan Asia dan Pasifik, yang akan berlangsung pada April 2026 di Brunei Darussalam.
Kegiatan ini mempertemukan berbagai organisasi masyarakat sipil dari kawasan Asia-Pasifik, mulai dari organisasi petani, nelayan, masyarakat adat, pekerja pedesaan, organisasi perempuan, hingga organisasi pemuda. Fisal Hafiz sebagai ketua divisi pengembangan pemuda JAMTANI sekaligus wakil Indonesia turut berpartisipasi dalam pertemuan ini yang bertujuan untuk memperkuat dialog regional sekaligus menyusun rekomendasi masyarakat sipil terkait berbagai tantangan dalam sistem pangan, pertanian, dan pembangunan pedesaan.
Dalam kegiatan ini, Fisal Hafiz hadir sebagai perwakilan sektor pemuda dari Asian Farmers Association for Sustainable Rural Development (AFA) melalui organisasi Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI), dalam program RYCAM yang berfokus pada pemberdayaan pemuda desa dalam aksi iklim dan pertanian berkelanjutan.
Youth Leaders Dialogue: Menyusun Deklarasi Pemuda Asia-Pasifik
Salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan ini adalah Youth Leaders Dialogue yang diselenggarakan pada 10 Maret 2026. Forum ini secara khusus memberikan ruang bagi para pemimpin muda dari berbagai negara di Asia dan Pasifik untuk berdiskusi mengenai masa depan sistem pangan serta peran generasi muda dalam sektor pertanian.
Dalam dialog tersebut, para peserta yang terdiri dari petani muda, nelayan muda, pemuda masyarakat adat, serta berbagai organisasi pemuda pedesaan membahas berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda dalam sektor agrifood systems. Beberapa isu utama yang mengemuka antara lain stigma terhadap profesi petani, keterbatasan akses terhadap lahan dan sumber daya produksi, terbatasnya akses pembiayaan bagi pemuda, serta meningkatnya dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian.
Diskusi tersebut menghasilkan Youth Declaration on Agrifood Systems, yang menegaskan bahwa pemuda bukan sekadar penerima manfaat program pembangunan, melainkan aktor penting sekaligus pemegang hak dalam transformasi sistem pangan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, akses terhadap sumber daya, serta ruang partisipasi yang lebih luas bagi pemuda, generasi muda dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun sistem pangan yang adil, tangguh, dan berkelanjutan di masa depan.