Program diawali dengan pengenalan organisasi dan pemaparan berbagai program unggulan JAMTANI oleh executive director Bapak Kustiwa Adinata , kemudian dilanjutkan dengan observasi langsung ke Climate Learning Cycles (CLC) yang terdiri atas laboratorium indoor, outdoor, dan Climate Field Lab. Pada tahap awal ini, peserta bersama fasilitator juga memastikan kembali terkait rencana pembelajaran sesuai kebutuhan dan tujuan pelatihan.
Selama hampir dua pekan, peserta mengikuti rangkaian pembelajaran yang mengintegrasikan Praktik, kunjungan lapangan dan teori. Materi yang diberikan meliputi perubahan iklim dan dampaknya terhadap sektor pertanian, pengembangan petani muda melalui Sekolah Lapang Iklim Agribusiness (Climate Business Field School) seperti penyusunan Business Model Canvas (BMC), pemahaman unsur cuaca dan iklim, penyusunan Kalender Musim Tanam dan Panen (KAMUSTAPA), serta penerapan Agroecosystem Analysis (AESA) dalam Sekolah Lapang Iklim (SLI) sebagai metode pembelajaran partisipatif bagi petani.
Peserta mempelajari berbagai inovasi yang telah dikembangkan JAMTANI, mulai dari Pembelajaran Ekologi Tanah (PET), analisis sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS), hingga praktik pembuatan Briket Organik Bio-Amelioran (BOB), Green Liquid Biofertilizer (GLB), dan penggunaan Perangkat Uji Pupuk Organik (PUPO). Peserta juga dikenalkan pada teknik pengendalian hama dan penyakit secara ramah lingkungan melalui pemanfaatan agens hayati, botol trap, bumbung konservasi, serta perangkap lalat buah berbahan tanaman lokal.
Selain pembelajaran di kelas, peserta mengunjungi berbagai kelompok dampingan JAMTANI untuk melihat langsung penerapan pertanian ramah iklim di tingkat petani. Kunjungan dilakukan ke Kelompok Tani Mugi Jaya di Desa Cimrutu untuk mempelajari budidaya Azolla, Taruna Tani Mekar Bayu Desa Ciganjeng untuk melihat pengembangan usaha budidaya anggur dan pengelolaan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya), Kelompok petani muda KTH Mekar Jaya III di Desa Sidomulyo yang mengembangkan budidaya jamur tiram berbasis limbah serbuk kayu, Kelompok Sekolah Lapang Iklim Tani Mukti I Desa Bojong yang menerapkan Pengendalian Hama Terpadu termasuk perbanyakan agens hayati, hingga Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Mandiri yang mengembangkan pengolahan hasil pertanian, penggunaan tungku hemat energi untuk produksi, serta pengemasan dan pemasaran produk potensi lokal.
Melalui program ini, JAMTANI memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang memadukan penguatan kapasitas petani, penerapan inovasi pertanian organik, adaptasi perubahan iklim, serta pengembangan usaha berbasis potensi lokal. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama dan pertukaran pengetahuan antara JAMTANI dan UEM dalam mendorong pengembangan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan, tangguh terhadap perubahan iklim, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.