Agroekologi kembali menjadi perhatian dalam upaya membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim dan El Niño. Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Seminar Nasional bertema “Memperkuat Agroekologi untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan di Tengah Ancaman Perubahan Iklim dan El Niño” yang berlangsung di Hall D Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan ini mempertemukan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan sistem pangan Indonesia, mulai dari unsur pemerintah dan pemangku kebijakan, akademisi dan peneliti, organisasi masyarakat sipil, hingga organisasi petani. Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI, Dr. Ir. Suwandi, M.Si., bersama sejumlah pihak lainnya yang terlibat dalam diskusi mengenai penguatan agroekologi dan kedaulatan pangan.

Organisasi petani dan masyarakat sipil, di antaranya Serikat Petani Indonesia (SPI), Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI), dan Aliansi Petani Indonesia (API), turut mengambil bagian dalam ruang diskusi tersebut. Pertemuan ini menjadi ruang untuk bertukar pandangan mengenai tantangan pertanian di tengah perubahan iklim, termasuk ancaman kekeringan akibat El Niño, sekaligus membahas pentingnya penguatan praktik agroekologi sebagai bagian dari upaya membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan berbasis pada kekuatan petani.

Agroekologi sebagai Respons terhadap Krisis Iklim

Ketua Umum SPI, Henry Saragih, menyampaikan bahwa persoalan pangan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari sistem perdagangan, posisi petani dalam rantai produksi dan distribusi, hingga praktik pertanian yang berdampak terhadap lingkungan.

Dalam konteks tersebut, agroekologi dipandang sebagai salah satu pendekatan yang dapat memperkuat keberlanjutan pertanian sekaligus meningkatkan kedaulatan petani.
Agroekologi tidak hanya berbicara mengenai teknik budidaya, tetapi juga bagaimana sistem pertanian dapat berjalan selaras dengan kondisi lingkungan, memanfaatkan sumber daya lokal, menekan ketergantungan terhadap input dari luar, serta memperkuat posisi petani sebagai pelaku utama sistem pangan.
Henry juga menyebut bahwa praktik agroekologi telah dijalankan oleh berbagai kelompok dan jaringan petani di Indonesia, termasuk Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI).

Praktik Agroekologi di Tingkat Petani oleh JAMTANI

Bagi JAMTANI, pembahasan mengenai agroekologi memiliki keterkaitan erat dengan berbagai praktik yang dikembangkan bersama petani di lapangan. Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum JAMTANI, Kustiwa S. Adinata, menegaskan bahwa agroekologi merupakan strategi untuk menjawab tekanan ganda yang dihadapi petani kecil, yaitu ancaman krisis iklim, lonjakan biaya pupuk kimia sintetis, serta krisis kedaulatan sarana input dan benih. 

Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui pengelolaan tanah dan air, pemanfaatan bahan organik, diversifikasi usaha tani, pengembangan inovasi pertanian ramah iklim, hingga penguatan kapasitas petani dalam membaca perubahan kondisi.

Di berbagai kegiatan pembelajaran petani, JAMTANI juga mendorong pendekatan yang menghubungkan pengetahuan iklim dengan praktik pertanian. Mulai dari pengamatan kondisi tanah dan tanaman, pengelolaan pupuk dan bahan organik, penghematan air, hingga pengembangan usaha pertanian yang memberikan nilai tambah bagi petani. Di saat yang sama, kemandirian petani diperkuat lewat pengelolaan bank benih komunitas dan pemuliaan partisipatif agar menghasilkan varietas lokal yang tahan terhadap cuaca ekstrem, baik kekeringan maupun genangan banjir. 

Pendekatan semacam ini penting karena petani tidak hanya dituntut untuk meningkatkan produksi, tetapi juga membangun sistem usaha tani yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan berkelanjutan.

Dari Produksi Pangan Menuju Kedaulatan Petani

Seminar nasional agroekologi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai pangan tidak dapat dipisahkan dari kondisi lingkungan dan posisi petani dalam sistem pangan.
Kedaulatan pangan membutuhkan petani yang memiliki pengetahuan, akses terhadap sumber daya, kemampuan beradaptasi, serta ruang untuk menentukan bagaimana sistem pertanian dikembangkan sesuai dengan kondisi wilayahnya.

Karena itu, penguatan agroekologi menjadi bagian penting dari upaya membangun pertanian yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjaga lingkungan dan memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim.

Bagi JAMTANI, agroekologi bukan sekadar konsep, melainkan pendekatan yang terus dikembangkan melalui proses belajar bersama petani dan penerapan inovasi di lapangan.
Ketika perubahan iklim semakin memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, membangun sistem pangan yang tangguh perlu dimulai dari tingkat petani dengan pengetahuan, inovasi, dan praktik pertanian yang selaras dengan alam.