Maggots, a solution to waste and feed problems

2020-01-03 10:40:17 by : Admin

Tahukah Anda?
Maggot merupakan istilah dalam bahasa inggis yang dalam Cambridge Dictionary, Maggot disebut the worm-like grub or larva of a fly yang dalam bahasa Indonesia berarti Belatung. Belatung? Apa yang dilakukan JAMTANI dengan belatung?

JAMTANI bekerja bersama petani dan melakukan berbagai upaya Adaptasi dan Mitigasi terhadap dampak perubahan Iklim di sektor pertanian. Beberapa upaya yang telah dilakukan yaitu Peningkatan Kapasitas petani melalui pengenalan berbagai teknologi pertanian ramah iklim dan terus mempromosikan zero chemical input dan pertanian organik termasuk memberikan rekomendasi penggunaan varietas padi toleran banjir, kekeringan, dan kadar salinitas tinggi akibat kenaikan air laut, juga penggunaan Green Manure, Kampanye Stop Bakar Jerami, serta penggunaan pupuk organik melalui pemanfaatan limbah rumah tangga dan limbah peternakan. Dari sisi pendapatan, JAMTANI selalu melakukan berbagai upaya peningkatan pendadapatan melalui pengolahan dan pengelolaan produk pertanian, pembentukan dan manajemen pasar, serta inovasi-inovasi dan analisis potensi produk.


Salah satu inovasi yang dapat membantu penyelesaian permasalahan lingkungan (sampah) selain juga memiliki potensi dalam meningkatkan pendapatan petani yaitu melalui pemanfaatan limbah rumah tangga sebagai kompos melalui budidaya Maggot BSF (Black Soldier Fly). Magot BSF dapat membantu penguraian secara alami, pakan ternak yang berprotein tinggi dan memiliki potensi pasar bernilai ekonomi tinggi karena pengembangannya masih rendah. Selain itu, kasgot atau bekas maggot yang berupa kompos dapat digunakan sebagai pupuk untuk lahan pertanian maupun media polybag karena mengandung hara yang cukup memadai. 

Tempat Budidaya Maggot BSF di Sekretariat JAMTANI

Maggot yang JAMTANI kembangkan adalah maggot yang berasal dari Black Soldier Fly (Hermetia illucens). Untuk lebih jelasnya mengenai Magot BSF, silahkan cermati uraian yang telah kami rangkum di bawah ini :
Kenampakan Maggot dan Black Soldier Fly dewasa

Black Soldier Fly (Hermetia illucens) atau Lalat Tentara Hitam adalah salah satu jenis lalat yang banyak ditemukan di tempat-tempat yang mengandung bahan organik khususnya kandang ternak atau tempat-tempat sampah lainnya, BSF sangat mudah untuk dikembangkan dalam skala produksi massal ataupun sekala kecil (rumahan) serta tidak memerlukan peralatan yang khusus. Selain itu lalat ini bukan merupakan lalat yang menyebarkan hama dan penyakit sehingga relatif aman jika dilihat dari segi kesehatan manusia. 
 
Siklus hidup BSF dari telur hingga menjadi lalat dewasa berlangsung sekitar 40-43 hari tergantung dari kondisi lingkungan dan media pakan yang diberikan. Pada masa dewasanya, lalat hitam hanya hidup untuk kawin dan bertelur. Dikutp dari sumber lain bahwa bertelurnya lalat betina menandakan permulaan siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumya. Di mana jenis lalat ini menghasilkan kelompok telur dengan jumlah  sekitar 400 hingga 800 telur yang diletakan di dekat bahan organik yang membusuk dan memasukkannya ke dalam rongga-rongga yang kecil, kering, dan terlindung agar terhindar dari ancaman predator serta sinar matahari langsung. Pada umumnya telur menetas setelah empat hari dan larva yang baru menetas akan segera mencari makanan di sekitar yaitu sampah organik. BSF hanya makan pada fase larva (maggot) yang berlangsung sekitar 14 - 16 hari, maka pada fase larva inilah akan menyimpan cadangan makanan (lemak dan protein) hingga cukup untuk berpupa hingga menjadi lalat, kemudian menemukan pasangan, kawin (lalat jantan mati) dan bertelur (lalat betina) sebelum akhirnya mati.
Siklus Hidup Black Soldier Fly
Ket : anggka merupakan jumlah hari


Maggot BSF
Maggot BSF merupakan fase larva yang berlangsung sekitar 18 hari, pada fase inilah manfaat banyak didapatkan yaitu sebagai biokonversi yang dapat mempercepat proses pengomposan/pembusukan sampah organik dan sumber pakan alternatif untuk pembudidaya ikan, itik, ayam serta masih banyak manfaat lainnya.

1. Maggot dapat mempercepat proses pengomposan atau pembusukana sampah organik
Sampah merupakan masalah yang sangat serius yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, karena sampah yang dihasilkan oleh manusia setiap hari tidak terhitung jumlahnya, baik itu sampah organik maupun anorganik. Potensi yang dapat lihat dari banyaknya sampah organik yang tersedia memberikan peluang untuk mengolahnya menjadi pupuk organik, biogas atau produk daur ulang lainnya. Untuk mempercepat proses pembusukan bahan organik biasanya diperlukan agen biokonversi yaitu dengan bantuan bakteri atau jamur, belakangan ini ditemukan agen biokonversi dengan menggunakan larva dari lalat tentara hitam atau BSF (Hermetia illucens) yang lebih dikenal dengan istilah "maggot" yang terbukti efektif menanggulangi permasalahan sampah khususnya sampah organik.

Pada umumnya maggot ini memakan seperti limbah rumah makan, limbah pasar, kotoran ternak/manusia, bangkai hewan bahkan tulang lunak dan sampah-sampah organik lainnya. Produk ahir yang diperoleh adalah pupuk organic padat dan cair, sedangkan kandungan nutrisi tergantung dari sumber pakan (sampah organic) yang diberikan kepada maggot. Serta manfaat yang tidak kalah penting yaitu dapat mengontrol bau, menekan hama-penyakit (pathogen) serta dapat mengurangi emisi gas rumah kaca pada saat proses dekomposisi sampah (Popa dan Green, 2012). Relevan dengan program JAMTANI yang berkomitmen untuk mengurangi kegiatan-kegiatan yang menyebabkan perubahan iklim.

2. Maggot sebagai sumber pakan alternative
Penyediaan pakan yang berkualitas merupakan salah satu faktor yang penting dalam budidaya itik, ayam, ikan atau ternak yang lainnya. Protein mempunyai peranan paling penting dalam suatu formula pakan berkualitas, karena protein terlibat dalam pembentukan jaringan tubuh. Sumber protein untuk pakan pada umumnya didapat dari protein hewani dan nabati seperti bungkil kedelai, tepung ikan, tepung darah atau tanaman kacang-kacangan. Selain itu juga protein merupakan salah satu bahan pakan yang paling mahal dibanding dengan bahan yang lainnya, akibatnya pemenuhan sumber protein cukup membebani biaya produksi pakan tersebut, sehingga sampai ditangan konsumen harga pakan buatan pabrik tersebut sangat mahal dan sangat membebani para peternak.

Selain harga pakan yang mahal, peternak juga sering memperoleh kualitas sumber protein yang tidak menentu sehingga mempengaruhi kualitas pakan tersebut, oleh karena hal tersebut makan akan berimbas kepada pertumbuhan dan hasil dari ternak atau ikan yang tidak sesuai dengan harapan bahkan hingga mengalami kerugian.

Salah satu usaha untuk mengurangi biaya produksi dalam budidaya itik, ayam, ikan atau ternak yang lainnya JAMTANI mengembangkan maggot sebagai pakan alternatif pakan alami atau pemenuhan sumber protein yang sudah terbukti dapat menggantiak pakan ternak buatan pabrik. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa maggot merupakan salah satu sumber protein hewani tinggi karena mengandung kisaran protein 30-45%. Maggot dalam bentuk kering me-ngandung 41-42% protein kasar, 14-15% abu, 31-35% ekstrak eter, 0.60-0.63% fosfor, dan 4.8-5.1% kalsium (Bondari & Sheppard, 1987)

Tabel kandungan nutrisi maggot











 
Ada 2 cara pemberian maggot kepada hewan ternak yaitu :
1. Maggot dapat diberikan dalam benuk segar langsung kepada hewan ternak seperti unggas dan ikan (lele)
2. Maggot di proses terlebih dahulu seperti tepung selanjutnya dapat dicampur dengan bahan pakan yang lainnya, langkah ini lebih baik dibanding dengan pemberian maggot segar kepada hewan ternak karena akan lebih mudah menyimpan tepung maggot dan daya simpan akan lebih lama.